Minggu, 28 Februari 2016

Sebuah Cerpen tentang Desaku...



ORANG-ORANG SAWAH
“Istirahat saja Rul, matahari semakin pelik...!”
Sepotong kalimat itulah yang kerap kali berdering di labirin telingaku ketika ibu melihatku tersengal dengan keringat dingin merebahkan batang padi dengan sabit tumpul milik ayah. Aku masih terus massangki  1 diiringi dengan tenaga yang semakin menciut. Seperangkat dahaga memang bertahta di ujung kerongkongan. Namun aku  terus menjejal padi-padi ini diselimuti terik yang garang. Benar, aku menggigil kepanasan.
“Kita harus pulang membawa laba padi setidaknya setengah karung, bu !”
Ibu hanya sedikit tersenyum sembari memegang pundakku. Mungkin beliau membenarkan kata-kataku. Selepas itu ibu kembali bergulat bersama sabit dan batang padi. Ia ibu yang tak kenal lelah. Pantang menyerah. Rela bekerja sawah untuk menyambung hidup aku dan adik-adikku. Kalaulah boleh disetarakan, aku ingin menyandingkan ibu bersama Cut nyak dien atau Dewi sartika sang pejuang nusantara. Yah, ibu pejuang aku dan adik-adikku. Aku bisa menyandang status mahasiswa, bisa kuliah karena ibuku.  Passangki 2 yang ulet.
Tahun ini, di kampung kami yang teduh terjadi pemberontakan. Bukan pemberontakan senjata seperti potret kehidupan bangsaku yang ingin merebut tanahnya beberapa tahun silam. Bukan pula adegan lempar melempar clurit yang membikin darah muncrat. Adalah pemberontakan batin bagi para pemilik sawah atau sekedar pekerja sawah yang membagi hasil dengan tuan sawah. Padi-padi yang sudah bosan menguning hanya bertemankan pipit-pipit angkuh yang bosan mematuk . Bahkan tikus-tikus licik yang biasa menyantap batang padi pak tani hingga ambruk kini enggan melirik. Batang-batang padi yang mengeras karena terlantar memang tak bisa menggoda sekelompok hewan mungil itu lagi.
“Kemana para passangki di kampung ini?”
Desahan risau itulah yang kerap dimuntahkan pemilik sawah berhektar-hektar bahkan pekerja sawah yang membagi hasil dengan tuan sawah tak ayal mengutuk sumpah serapah. Padi-padi yang sudah kuning dengan batang keras kini merindukan belaian sabit dari buruh panen. Ada sekelebat tanya yang bersemayam di kepala pung Husain, pemilik sawah yang kini ku jamah. Padi-padinya yang indah dan menggiurkan kini menjelma menjadi padi jelek yang kian menua. Kekhawatiran pada padi-padinya kini menjelma menjadi topik utama di surat kabar ibu kota : Buruh panen langka, ribuan hektar padi terlantar.
Ada seuntai gundah di dasar hati ini. Mungkin juga dirasakan oleh ibu dan teman-teman sejawatnya yang kini bersamaku merais petak-petak sawah. Mengapa peristiwa apes masih saja setia menggantung di pelosok nusantara. Padahal persoalan ruwet di negaraku sudah tak bisa ditampung lagi. Ini serupa tertimpa meteor bertubi-tubi. Masalah korupsi, persengketaan wilayah dan bahkan pertikaian partai politik yang tak bisa kumengerti klimaks bahkan endingnya yang mungkin orang pun sudah enggan meliriknya. Bukankah sudah menjadi teman setia reporter, televisi, dan surat kabar ? Lalu di ujung kampungku yang mayoritas petani ini tumbuh benih-benih masalah baru : Buruh panen yang langka. Alangkah lucunya.
“Ini kutukan. Nikmatilah anugerah Tuhan ini. Kamu ingat, tahun lalu kita laksana rakyat jelata yang terkucilkan. Dan sekarang kita naik pangkat. Tuhan maha adil. Beruntunglah kita sebagai passangki setia dapat memporak-porandakan padi-padi dengan puasnya, bukan memungut sisa-sisa dross3 lagi !” tegas seorang nenek dengan pakaian lusuh dan jilbat klasik yang belum disetrika dengan semangat juang terus massangki. Mulutnya yang mengunyah sirih tampak kemerahan. Ibu tersenyum mendengar ocehan nenek Sardiah. Ia memang suka melempar opini-opini ketika dunia bermasalah. Bahkan masih segar peristiwa ketika ia tak mendapat bantuan pemerintah dalam bentuk sembako padahal tetangganya yang masih kuat dan mampu berkendaraan pribadi mendapat pembagian beras.
“Kemana otak pemerintah kita ?” Aku dapat membayangkan kepalanya gosong kerena mengomel. Tiga hari tiga malam ia mengutuk habis-habisan. Pada akhirnya ia bersiasat merogoh selembar kertas. Dengan goresan tinta ia meluapkan keluh kesah dan amarahnya yang membara-bara dengan mata melotot. Selepas itu dimasukkannya ke dalam amplop dan mengirimnya ke kantor Bupati. Inilah protes sang nenek yang mencari keadilan. “ Kalau ia nekad, tak ada yang bisa melarangnya “ desah suaminya yang sudah lumpuh dan tak bisa berbuat apa-apa.
Petak demi petak sawah tuan Husain hampir ludes. Padi-padinya sudah tumbang membelai tanah retak. Aku masih terbungkuk-bungkuk merebahkan padi-padi yang sudah lama merindu tangan-tangan suci. Sudah tak terhitung bulir-bulir keringat yang sedari fajar menyingsing telah berpisah dengan pori-poriku. Tiba-tiba sabit tumpul itu kurasakan menggigit Jemariku.
“ Irul, tangan kamu berdarah “ Lirih nenek Sardiah cemas
“Ini cuma luka kecil, nek.” Tambahku meyakinkan
“Jangan dibiarkan, nanti infeksi!”
Nenek Sardiah yang sejatinya masih ada hubungan keluarga dengan ibuku memang selalu gemetar tatkala melihat darah. Tatapannya nanar dan mengiba. Mungkin ia trauma. Setetes darah mengingatkannya pada mendiang cucunya. Beberapa waktu silam ia harus rela melepas cucu kesayangannya ke peristirahatan abadi. Tangisnya yang pecah kala itu mengundang reaksi para tetangga “ Nenek pengomel itu ternyata bisa juga menangis”. Cucunya yang sejurusan denganku di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di kotaku tewas ketika turut unjuk rasa. Yah, BBM-lah yang merenggut nafasnya. Ia sama persis dengan nenek yang suka protes ketika dunia mencoba merenggut kesejahteraan jiwanya. Unjuk rasa kenaikan BBM itulah yang menjadi semburan aspirasi terakhir Faiz. Unjuk rasa yang berujung ricuh pun mengundang naas yang tak bisa ditawar oleh siapa pun. Darah pun jadi korban.
Aku duduk di tumpukan jerami. Di sampingku ada tuan Husain yang usai melilitkan sehelai kain pada telunjukku yang luka.
“Bagaimana, Rul? Agak mendingan?”
“ Jangan khawatir pung, ini hanya luka kecil.”
Di atas tumpukan jerami yang masih segar ini, kulemparkan pandanganku pada dua wanita tegar di ujung petak sawah. Kulihat ibu dan nenek Sardiah masih berdansa bersama senjata kebanggaanya: Sabit tumpul. Ibuku yang cantik bersih kini harus bekerja mati-matian setelah ayah dipanggil tuhan. Ia menjelma menjadi passangki yang tak kenal lelah sehingga ia berharap bisa menyekolahkanku tinggi tinggi.
Di malam-malam yang sunyi yang diterpa semburat purnama, dari dalam kamarnya yang sepi aku kerap mendengar gumaman ibu “ Ka...mu harus jadi pro..fesor, Rul. Belikan ibu tiga hektar sawah”. Dan lagi-lagi aku tersenyum kecut mendengar gumaman ibu yang semakin hari semakin menjadi-jadi . Di rumah kami yang reot  dengan tiang-tiang penyangga yang sudah mulai lapuk dimakan anai-anai memang laksana surga yang selalu terindukan. Tempat aku dan ibu menggantungkan mimpi-mimpi menjadi konglomerat dermawan. Tempat aku dan ibu meluapkan rindu sendu ketika teringat ayah, sang petani ulet yang mati konyol. Beberapa versi kematian ayah masih terngiang di depan keningku. Dan yang masuk kategori membenarkan dari kutipan cerita-cerita tetangga bahwa ayah mati tersambar petir ketika sawahnya yang ia cinta dengan sepenuh hati diserbu banjir . Ia lari tergopoh-gopoh dengan sarung lusuh  dan kaos oblong menuju sawah. Di atas setapak sawah ayah meregang nyawa. Tubuhnya yang gosong mengetuk pintu air mataku untuk menetas di hari itu. Sangat deras.
Dan setelah peristiwa itu ibu mengurung diri di dalam kamar. Hanya rintihan kecil yang bergema di telingaku ketika aku mengetuk-ngetuk pintu kamar ibu. Dan sebulan kemudian ibu seperti terkena mukjisat. Wanita penyabar yang lemah menjelma menjadi janda perkasa dengan 3 orang anak laki-laki. Ia tegar dan mulai keluar rumah. Sampai menjadi buruh panen seperti sekarang yang tengah kusaksikan.
Kadang batin ini meradang. Laksana ribuan sembilu mengiris-iris kalbu kala kutatap kening perempuan muda itu mengeluarkan keringat untuk menyekolahkanku dan adik-adikku. Ibu dan nenek Sardiah sangat setia menjadi passangki. Di pikiranku melayang-layang bayangan ibu satu tahun silam sebagai buruh panen. Di kampung tercinta ini ibu terkucilkan. Ibu dan nenek Sardiah hanya merais sisa-sisa padi berserakan yang diacuhkan para pekerja dross3 ketika panen tiba. Yah, tahun lalu dross menjadi kebanggaan para pemilik sawah. Mereka menggunakan jasa dross untuk memanen padi-padi yang sudah menguning. Tentu dalam jangka waktu yang menjanjikan.
“Paling... dalam satu hari selesai” Begitu selalu terngiang di kepalaku ungkapan pemilik sawah dengan bangganya. Dari pada harus menunggu jasa passangki yang biasanya harus memakan waktu dua tiga hari karena harus massangki dan massampa4.
“Lalu panen kali ini para pekerja dross kemana?” Seperti lenyap ditelan masa. Pertanyaan inilah yang mungkin masih tak bisa terjabarkan dengan kata-kata yang anggun. Tadi pagi kudengar bahwa hanya ada beberapa orang yang bergelut dengan dross. Itupun harus antri dengan para petani lain. Tentu dengan imbalan selangit. Mungkin karena efek BBM yang juga selangit. Dan terangnya, Pung Husain memilih untuk tidak menggunakan dross. Ia lebih memilih menunggu para passangki yang setia melumpuhkan batang-batang padinya.
Aku membayangkan perjuangan ibu tahun lalu yang sangat menyedihkan. Karena berkembangnya dross yang dipuja-puja tuan sawah, ibu terkucilkan. Tuan sawah lebih memilih dross untuk memanen buah kerja kerasnya. Kala itu aku hanya bisa membantu ibu dengan doa ketika aku ada ujian di kampus. Aku harap ibu pulang membawa tiga karung gabah karena keuletannya merais sisa sisa padi.
Pung Husain masih berlama-lama disampingku padahal matahari mulai mengamuk. Tampak wajah pung Husain  yang bimbang. Tatapannya sayu. Aku melirik pung Husain dengan tatapan sayu pula. Kudapati guratan-guratan risau dari bola matanya. Sungguh, menggambarkan kepiluan tiada tara. Aku juga dapat merasakan ratapan batin pung Husain yang berkecamuk. Aku dapat merasakan pundi-pundi juang pung Husain mulai mappano bine 5 sampai sekarang: Memanen padi. Aku bisa merasakan karena ayahku dulu seorang petani rajin. Ia teman ayahku yang setiap subuh setelah adzan subuh di surau berkumandang ia bergegas mengambil topi dan cangkul dengan mengenakan Kaos bergambarkan wajah-wajah caleg yang menyungginkan senyum, lalu tanpa pamit ia melesat menuju tempat kerjanya : Sawah. Di tanah yang becek ia mati-matian mencangkul dengan sepenuh hati sampai matahari marah. Kaki-kakinya yang bersih ia relakan menjadi kumal dimakan tanah becek. Hanya kedipan mata ia mengisap rokok lalu kembali bekerja. Hanya terik dan hujan yang setia menemani silih berganti, atau guruh yang mengiringi siul sendu ayah di sawah yang dicintainya. Lalu pada saat padi mulai berbuah Ibu, ayah dan aku sibuk membuat boneka sawah atau rentetan kaleng susu yang di satukan hingga menghasilkan gemericik untuk mengusir pipit yang tiada ampun.
Itu adalah sehelai perjuangan ayah yang seperti bereinkarnasi di guratan wajah pung Husain. Aku melihat perjuangan itu di matanya. Sangat jelas.
Lalu kenapa di hari panen ini yang seharusnya menjadi momok riang para petani malah menjadi kebimbangan yang tiada arti bagi pung Husain? Jawaban yang tak terelakkan adalah karena kekurangan buruh panen yang menjadikan padi-padi mereka menua dan baru bisa terjamah sekarang. Sepotong demi sepotong perjuangan itu yang terekam di memoriku sepertinya terinjak-injak oleh passangki yang mengucilkan padi-padi petani. Mereka lebih memilih merantau di kampung seberang dengan berubah status menjadi buruh cengkeh yang lebih menjanjikan. Apalagi setelah dross berkembang, mereka seperti ditendang. Mereka tak yakin dapat menopang nafas hanya dengan merais sisa-sisa padi di sawah. Dan kini hanya ibu, nenek Sardiah dan beberapa passangki yang setia nomaden dari satu petak ke petak lain. Dunia ini sungguh dilematis.Air mataku menetas. Dari lubuk hatiku yang terdalam bulir air mata ini kupersembahkan untuk pung husain dan ibu: para pejuang sawah. Kurasakan kegalauannya tak berujung . Kuayunkan jemariku yang masih luka menyeka air mata di pipiku.  Lalu aku tersenyum kepada pung Husain. Beliau tampaknya membalas senyumku walau kutahu jiwanya buncah. Hanya jiwaku dan jiwa pung husain yang saling berdialog menyudahi kegundahan yang menghinggapi
Matahari kian mengamuk . awan-awan nakal yang biasa mengotori langit pun entah kemana. Hanya pipit mungil yang bernyanyi dengan suara parau di atas padi-padi yang telah dipanen. Angin sawah masih berdendang menyelimuti jiwa-jiwa tegar dalam mengarungi samudera kehidupan yang amat bergelombang. Entah mengapa sinar matahari siang itu seperti membakar awan-awan bejat yang tak tau adab. Yang terbentang hanya biru bersih. Rumah-rumahan sawah yang biasanya penuh usai memanen kini menyepi. Hanya pung Husain, Ibu, nenek Sardiah dan aku yang berceloteh.
Adegan-adegan kami yang tanpa lelah tadi pagi yang memaksa otot-ototku bekerja lebih keras dari biasanya akan selalu kusematkan dalam darah dan nadiku. Ini adalah perjuangan orang-orang sawah yang mencintai sawah. Bahkan ibu yang sudah terlanjur mencintai sawah pernah berbisik kepadaku “ Hanya dengan mencium belalang sawah ibu bisa hidup. Sungguh Rul, Jangan pernah menyuruh ibu untuk berhenti menjadi orang-orang sawah. Ibu sangat mencintai embun di pelataran ilalang dan pucuk padi”.
Kami pulang. Kemarahan matahari mulai mereda. Gumpalan-gumpalan awan mulai terlukiskan di kanvas langit biru muda. Aku memikul laba ibu yang telah menjadi passangki hari itu. Setengah karung yang terisi padi nampaknya takkan memberatkan punggungku yang mulai berotot . Di sepanjang jalan nenek Sardiah melewati setapak dengan menggelarkan celoteh-celotehnya yang bisa dibuat berepisode-episode. Sesekali ibu dan aku hanya menggeleng dengan melemparkan sepatah kata pada nenek Sardiah
“ O.. begitu”
Setelah itu ia memulai lagi dengan celoteh baru tanpa jeda. Di sepanjang jalan yang kulalui kami meninggalkan jejak. Sebuah jejak orang-orang sawah yang sangat mencintai sawah. Sebuah jejak yang akan kurindu. Yah, Mungkin setelah menjadi konglomerat nanti.
                                                                                                                                                                             
Catatan :
1. Massangki               : Memanen padi dengan tahap awal, merebahkan batang padi, biasanya menggunakan sabit
2.  Passangki               : buruh panen
3. Dross                       : Mesin pemanen padi dalam skala besar
4.  Massampa              : memanen padi tahap kedua, memisahkan padi dari batang dengan menghempaskan pada alat tradisional, biasanya kayu yang sudah dipasang besi di tengah tengah yang dimodel sedemikian rupa
5. Mappano bine         : menabur benih padi di petakan sawah

Kamis, 11 Februari 2016

KITA INI SINGGAH

KITA INI SINGGAH

Kita ini SINGGAH
Singgah di tempat tempat terasing yang perlahan-lahan kita jamah,
kita peluk, dan kita tak tak lepaskan
lalu kita tidak sadar bahwa
KITA INI SINGGAH

Aku sesekali memandang ke sekeliling
Tempat persinggahan macam apa ini?
Lalu tak ada jawaban
Karena kau, dia, dan mereka sibuk mengumpulkan koin dan harta karun
Mungkin juga aku
Tapi kita lagi-lagi tak sadar, kita buta bahwa
KITA INI SINGGAH

Di luar sana ada debu
Iya, kita berenang di atas debu
Dan bahwa atas kecintaan kita pada debu
Kita merakit istana dari debu, lalu tinggal
melukis batu di dalamnya
Sadarkah bahwa cepat atau lambat
ini semua akan runtuh, terbang, dan meninggalkan kita
Ah, Mungkin saja tidak
Karena tak terlintas bahwa
KITA INI SINGGAH

Lalu kapan kita berangkat ke tempat tujuan?
Besok?
Lusa?
100 tahun lagi ?
atau...
... sekarang?

Ah, AKU TAK SIAP SEKARANG
LALU KAPAN KITA SIAP?
Makanya sadar bahwa KITA INI SINGGAH

Iya, kita hanya singgah mengumpulkan nafas, tenaga, dan tentu saja BEKAL
agar senantiasa siap kapan perahu akan berlayar ke NEGERI IMPIAN
Selagi masih ada waktu, jangan hanya berdiri memandang ke arah jendela
Karena senja, pagi, dan, sore yang syahdu
Boleh jadi adalah gelombang penenang tidur agar kita ketinggalan PERAHU

Para kawan SINGGAHku, sudahkah kita ingat bahwa KITA INI SINGGAH ?

Labessi,  8 Februari 2016