KITA INI SINGGAH
Kita ini SINGGAH
Singgah di tempat tempat terasing yang perlahan-lahan kita jamah,
kita peluk, dan kita tak tak lepaskan
lalu kita tidak sadar bahwa
KITA INI SINGGAH
Aku sesekali memandang ke sekeliling
Tempat persinggahan macam apa ini?
Lalu tak ada jawaban
Karena kau, dia, dan mereka sibuk mengumpulkan koin dan harta karun
Mungkin juga aku
Tapi kita lagi-lagi tak sadar, kita buta bahwa
KITA INI SINGGAH
Di luar sana ada debu
Iya, kita berenang di atas debu
Dan bahwa atas kecintaan kita pada debu
Kita merakit istana dari debu, lalu tinggal
melukis batu di dalamnya
Sadarkah bahwa cepat atau lambat
ini semua akan runtuh, terbang, dan meninggalkan kita
Ah, Mungkin saja tidak
Karena tak terlintas bahwa
KITA INI SINGGAH
Lalu kapan kita berangkat ke tempat tujuan?
Besok?
Lusa?
100 tahun lagi ?
atau...
... sekarang?
Ah, AKU TAK SIAP SEKARANG
LALU KAPAN KITA SIAP?
Makanya sadar bahwa KITA INI SINGGAH
Iya, kita hanya singgah mengumpulkan nafas, tenaga, dan tentu saja BEKAL
agar senantiasa siap kapan perahu akan berlayar ke NEGERI IMPIAN
Selagi masih ada waktu, jangan hanya berdiri memandang ke arah jendela
Karena senja, pagi, dan, sore yang syahdu
Boleh jadi adalah gelombang penenang tidur agar kita ketinggalan PERAHU
Para kawan SINGGAHku, sudahkah kita ingat bahwa KITA INI SINGGAH ?
Labessi, 8 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar