ORANG-ORANG SAWAH
“Istirahat saja Rul, matahari semakin pelik...!”
Sepotong kalimat itulah yang kerap kali berdering di labirin
telingaku ketika ibu melihatku tersengal dengan keringat dingin merebahkan
batang padi dengan sabit tumpul milik ayah. Aku masih terus massangki 1 diiringi dengan tenaga
yang semakin menciut. Seperangkat dahaga memang bertahta di ujung kerongkongan.
Namun aku terus menjejal padi-padi ini
diselimuti terik yang garang. Benar, aku menggigil kepanasan.
“Kita harus pulang membawa laba padi setidaknya setengah
karung, bu !”
Ibu hanya sedikit tersenyum sembari memegang pundakku.
Mungkin beliau membenarkan kata-kataku. Selepas itu ibu kembali bergulat
bersama sabit dan batang padi. Ia ibu yang tak kenal lelah. Pantang menyerah.
Rela bekerja sawah untuk menyambung hidup aku dan adik-adikku. Kalaulah boleh
disetarakan, aku ingin menyandingkan ibu bersama Cut nyak dien atau Dewi
sartika sang pejuang nusantara. Yah, ibu pejuang aku dan adik-adikku. Aku bisa
menyandang status mahasiswa, bisa kuliah karena ibuku. Passangki 2 yang ulet.
Tahun ini, di kampung kami yang teduh terjadi pemberontakan.
Bukan pemberontakan senjata seperti potret kehidupan bangsaku yang ingin
merebut tanahnya beberapa tahun silam. Bukan pula adegan lempar melempar clurit
yang membikin darah muncrat. Adalah pemberontakan batin bagi para pemilik sawah
atau sekedar pekerja sawah yang membagi hasil dengan tuan sawah. Padi-padi yang
sudah bosan menguning hanya bertemankan pipit-pipit angkuh yang bosan mematuk .
Bahkan tikus-tikus licik yang biasa menyantap batang padi pak tani hingga
ambruk kini enggan melirik. Batang-batang padi yang mengeras karena terlantar
memang tak bisa menggoda sekelompok hewan mungil itu lagi.
“Kemana para passangki di kampung ini?”
Desahan risau itulah yang kerap dimuntahkan pemilik sawah
berhektar-hektar bahkan pekerja sawah yang membagi hasil dengan tuan sawah tak
ayal mengutuk sumpah serapah. Padi-padi yang sudah kuning dengan batang keras
kini merindukan belaian sabit dari buruh panen. Ada sekelebat tanya yang
bersemayam di kepala pung Husain, pemilik sawah yang kini ku jamah.
Padi-padinya yang indah dan menggiurkan kini menjelma menjadi padi jelek yang
kian menua. Kekhawatiran pada padi-padinya kini menjelma menjadi topik utama di
surat kabar ibu kota : Buruh panen langka, ribuan hektar padi terlantar.
Ada seuntai gundah di dasar hati ini. Mungkin juga dirasakan
oleh ibu dan teman-teman sejawatnya yang kini bersamaku merais petak-petak
sawah. Mengapa peristiwa apes masih saja setia menggantung di pelosok
nusantara. Padahal persoalan ruwet di negaraku sudah tak bisa ditampung lagi.
Ini serupa tertimpa meteor bertubi-tubi. Masalah korupsi, persengketaan wilayah
dan bahkan pertikaian partai politik yang tak bisa kumengerti klimaks bahkan
endingnya yang mungkin orang pun sudah enggan meliriknya. Bukankah sudah
menjadi teman setia reporter, televisi, dan surat kabar ? Lalu di ujung
kampungku yang mayoritas petani ini tumbuh benih-benih masalah baru : Buruh
panen yang langka. Alangkah lucunya.
“Ini kutukan. Nikmatilah anugerah Tuhan ini. Kamu ingat,
tahun lalu kita laksana rakyat jelata yang terkucilkan. Dan sekarang kita naik
pangkat. Tuhan maha adil. Beruntunglah kita sebagai passangki setia dapat
memporak-porandakan padi-padi dengan puasnya, bukan memungut sisa-sisa dross3
lagi !” tegas seorang nenek dengan pakaian lusuh dan jilbat klasik
yang belum disetrika dengan semangat juang terus massangki. Mulutnya yang
mengunyah sirih tampak kemerahan. Ibu tersenyum mendengar ocehan nenek Sardiah.
Ia memang suka melempar opini-opini ketika dunia bermasalah. Bahkan masih segar
peristiwa ketika ia tak mendapat bantuan pemerintah dalam bentuk sembako
padahal tetangganya yang masih kuat dan mampu berkendaraan pribadi mendapat
pembagian beras.
“Kemana otak pemerintah kita ?” Aku dapat membayangkan
kepalanya gosong kerena mengomel. Tiga hari tiga malam ia mengutuk
habis-habisan. Pada akhirnya ia bersiasat merogoh selembar kertas. Dengan
goresan tinta ia meluapkan keluh kesah dan amarahnya yang membara-bara dengan
mata melotot. Selepas itu dimasukkannya ke dalam amplop dan mengirimnya ke
kantor Bupati. Inilah protes sang nenek yang mencari keadilan. “ Kalau ia
nekad, tak ada yang bisa melarangnya “ desah suaminya yang sudah lumpuh dan tak
bisa berbuat apa-apa.
Petak demi petak sawah tuan Husain hampir ludes.
Padi-padinya sudah tumbang membelai tanah retak. Aku masih terbungkuk-bungkuk
merebahkan padi-padi yang sudah lama merindu tangan-tangan suci. Sudah tak
terhitung bulir-bulir keringat yang sedari fajar menyingsing telah berpisah
dengan pori-poriku. Tiba-tiba sabit tumpul itu kurasakan menggigit Jemariku.
“ Irul, tangan kamu berdarah “ Lirih nenek Sardiah cemas
“Ini cuma luka kecil, nek.” Tambahku meyakinkan
“Jangan dibiarkan, nanti infeksi!”
Nenek Sardiah yang sejatinya masih ada hubungan keluarga
dengan ibuku memang selalu gemetar tatkala melihat darah. Tatapannya nanar dan
mengiba. Mungkin ia trauma. Setetes darah mengingatkannya pada mendiang
cucunya. Beberapa waktu silam ia harus rela melepas cucu kesayangannya ke
peristirahatan abadi. Tangisnya yang pecah kala itu mengundang reaksi para
tetangga “ Nenek pengomel itu ternyata bisa juga menangis”. Cucunya yang
sejurusan denganku di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di kotaku
tewas ketika turut unjuk rasa. Yah, BBM-lah yang merenggut nafasnya. Ia sama
persis dengan nenek yang suka protes ketika dunia mencoba merenggut
kesejahteraan jiwanya. Unjuk rasa kenaikan BBM itulah yang menjadi semburan
aspirasi terakhir Faiz. Unjuk rasa yang berujung ricuh pun mengundang naas yang
tak bisa ditawar oleh siapa pun. Darah pun jadi korban.
Aku duduk di tumpukan jerami. Di sampingku ada tuan Husain
yang usai melilitkan sehelai kain pada telunjukku yang luka.
“Bagaimana, Rul? Agak mendingan?”
“ Jangan khawatir pung, ini hanya luka kecil.”
Di atas tumpukan jerami yang masih segar ini, kulemparkan
pandanganku pada dua wanita tegar di ujung petak sawah. Kulihat ibu dan nenek
Sardiah masih berdansa bersama senjata kebanggaanya: Sabit tumpul. Ibuku yang
cantik bersih kini harus bekerja mati-matian setelah ayah dipanggil tuhan. Ia
menjelma menjadi passangki yang tak kenal lelah sehingga ia berharap bisa menyekolahkanku
tinggi tinggi.
Di malam-malam yang sunyi yang diterpa semburat purnama,
dari dalam kamarnya yang sepi aku kerap mendengar gumaman ibu “ Ka...mu harus
jadi pro..fesor, Rul. Belikan ibu tiga hektar sawah”. Dan lagi-lagi aku
tersenyum kecut mendengar gumaman ibu yang semakin hari semakin menjadi-jadi .
Di rumah kami yang reot dengan
tiang-tiang penyangga yang sudah mulai lapuk dimakan anai-anai memang laksana
surga yang selalu terindukan. Tempat aku dan ibu menggantungkan mimpi-mimpi
menjadi konglomerat dermawan. Tempat aku dan ibu meluapkan rindu sendu ketika
teringat ayah, sang petani ulet yang mati konyol. Beberapa versi kematian ayah
masih terngiang di depan keningku. Dan yang masuk kategori membenarkan dari
kutipan cerita-cerita tetangga bahwa ayah mati tersambar petir ketika sawahnya
yang ia cinta dengan sepenuh hati diserbu banjir . Ia lari tergopoh-gopoh dengan
sarung lusuh dan kaos oblong menuju
sawah. Di atas setapak sawah ayah meregang nyawa. Tubuhnya yang gosong mengetuk
pintu air mataku untuk menetas di hari itu. Sangat deras.
Dan setelah peristiwa itu ibu mengurung diri di dalam kamar.
Hanya rintihan kecil yang bergema di telingaku ketika aku mengetuk-ngetuk pintu
kamar ibu. Dan sebulan kemudian ibu seperti terkena mukjisat. Wanita penyabar
yang lemah menjelma menjadi janda perkasa dengan 3 orang anak laki-laki. Ia
tegar dan mulai keluar rumah. Sampai menjadi buruh panen seperti sekarang yang
tengah kusaksikan.
Kadang batin ini meradang. Laksana ribuan sembilu
mengiris-iris kalbu kala kutatap kening perempuan muda itu mengeluarkan
keringat untuk menyekolahkanku dan adik-adikku. Ibu dan nenek Sardiah sangat
setia menjadi passangki. Di pikiranku melayang-layang bayangan ibu satu tahun
silam sebagai buruh panen. Di kampung tercinta ini ibu terkucilkan. Ibu dan
nenek Sardiah hanya merais sisa-sisa padi berserakan yang diacuhkan para
pekerja dross3 ketika panen
tiba. Yah, tahun lalu dross menjadi kebanggaan para pemilik sawah. Mereka
menggunakan jasa dross untuk memanen padi-padi yang sudah menguning. Tentu
dalam jangka waktu yang menjanjikan.
“Paling... dalam satu hari selesai” Begitu selalu terngiang
di kepalaku ungkapan pemilik sawah dengan bangganya. Dari pada harus menunggu
jasa passangki yang biasanya harus memakan waktu dua tiga hari karena harus
massangki dan massampa4.
“Lalu panen kali ini para pekerja dross kemana?” Seperti
lenyap ditelan masa. Pertanyaan inilah yang mungkin masih tak bisa terjabarkan
dengan kata-kata yang anggun. Tadi pagi kudengar bahwa hanya ada beberapa orang
yang bergelut dengan dross. Itupun harus antri dengan para petani lain. Tentu
dengan imbalan selangit. Mungkin karena efek BBM yang juga selangit. Dan
terangnya, Pung Husain memilih untuk tidak menggunakan dross. Ia lebih memilih
menunggu para passangki yang setia melumpuhkan batang-batang padinya.
Aku membayangkan perjuangan ibu tahun lalu yang sangat
menyedihkan. Karena berkembangnya dross yang dipuja-puja tuan sawah, ibu
terkucilkan. Tuan sawah lebih memilih dross untuk memanen buah kerja kerasnya.
Kala itu aku hanya bisa membantu ibu dengan doa ketika aku ada ujian di kampus.
Aku harap ibu pulang membawa tiga karung gabah karena keuletannya merais sisa
sisa padi.
Pung Husain masih berlama-lama disampingku padahal matahari
mulai mengamuk. Tampak wajah pung Husain
yang bimbang. Tatapannya sayu. Aku melirik pung Husain dengan tatapan
sayu pula. Kudapati guratan-guratan risau dari bola matanya. Sungguh,
menggambarkan kepiluan tiada tara. Aku juga dapat merasakan ratapan batin pung
Husain yang berkecamuk. Aku dapat merasakan pundi-pundi juang pung Husain mulai
mappano bine 5 sampai sekarang: Memanen padi. Aku bisa
merasakan karena ayahku dulu seorang petani rajin. Ia teman ayahku yang setiap
subuh setelah adzan subuh di surau berkumandang ia bergegas mengambil topi dan
cangkul dengan mengenakan Kaos bergambarkan wajah-wajah caleg yang
menyungginkan senyum, lalu tanpa pamit ia melesat menuju tempat kerjanya :
Sawah. Di tanah yang becek ia mati-matian mencangkul dengan sepenuh hati sampai
matahari marah. Kaki-kakinya yang bersih ia relakan menjadi kumal dimakan tanah
becek. Hanya kedipan mata ia mengisap rokok lalu kembali bekerja. Hanya terik
dan hujan yang setia menemani silih berganti, atau guruh yang mengiringi siul
sendu ayah di sawah yang dicintainya. Lalu pada saat padi mulai berbuah Ibu,
ayah dan aku sibuk membuat boneka sawah atau rentetan kaleng susu yang di
satukan hingga menghasilkan gemericik untuk mengusir pipit yang tiada ampun.
Itu adalah sehelai perjuangan ayah yang seperti
bereinkarnasi di guratan wajah pung Husain. Aku melihat perjuangan itu di
matanya. Sangat jelas.
Lalu kenapa di hari panen ini yang seharusnya menjadi momok
riang para petani malah menjadi kebimbangan yang tiada arti bagi pung Husain?
Jawaban yang tak terelakkan adalah karena kekurangan buruh panen yang
menjadikan padi-padi mereka menua dan baru bisa terjamah sekarang. Sepotong
demi sepotong perjuangan itu yang terekam di memoriku sepertinya terinjak-injak
oleh passangki yang mengucilkan padi-padi petani. Mereka lebih memilih merantau
di kampung seberang dengan berubah status menjadi buruh cengkeh yang lebih
menjanjikan. Apalagi setelah dross berkembang, mereka seperti ditendang. Mereka
tak yakin dapat menopang nafas hanya dengan merais sisa-sisa padi di sawah. Dan
kini hanya ibu, nenek Sardiah dan beberapa passangki yang setia nomaden dari
satu petak ke petak lain. Dunia ini sungguh dilematis.Air mataku menetas. Dari
lubuk hatiku yang terdalam bulir air mata ini kupersembahkan untuk pung husain
dan ibu: para pejuang sawah. Kurasakan kegalauannya tak berujung . Kuayunkan
jemariku yang masih luka menyeka air mata di pipiku. Lalu aku tersenyum kepada pung Husain. Beliau
tampaknya membalas senyumku walau kutahu jiwanya buncah. Hanya jiwaku dan jiwa
pung husain yang saling berdialog menyudahi kegundahan yang menghinggapi
Matahari kian mengamuk . awan-awan nakal yang biasa mengotori
langit pun entah kemana. Hanya pipit mungil yang bernyanyi dengan suara parau
di atas padi-padi yang telah dipanen. Angin sawah masih berdendang menyelimuti
jiwa-jiwa tegar dalam mengarungi samudera kehidupan yang amat bergelombang.
Entah mengapa sinar matahari siang itu seperti membakar awan-awan bejat yang
tak tau adab. Yang terbentang hanya biru bersih. Rumah-rumahan sawah yang
biasanya penuh usai memanen kini menyepi. Hanya pung Husain, Ibu, nenek Sardiah
dan aku yang berceloteh.
Adegan-adegan kami yang tanpa lelah tadi pagi yang memaksa
otot-ototku bekerja lebih keras dari biasanya akan selalu kusematkan dalam
darah dan nadiku. Ini adalah perjuangan orang-orang sawah yang mencintai sawah.
Bahkan ibu yang sudah terlanjur mencintai sawah pernah berbisik kepadaku “
Hanya dengan mencium belalang sawah ibu bisa hidup. Sungguh Rul, Jangan pernah
menyuruh ibu untuk berhenti menjadi orang-orang sawah. Ibu sangat mencintai
embun di pelataran ilalang dan pucuk padi”.
Kami pulang. Kemarahan matahari mulai mereda.
Gumpalan-gumpalan awan mulai terlukiskan di kanvas langit biru muda. Aku
memikul laba ibu yang telah menjadi passangki hari itu. Setengah karung yang
terisi padi nampaknya takkan memberatkan punggungku yang mulai berotot . Di
sepanjang jalan nenek Sardiah melewati setapak dengan menggelarkan
celoteh-celotehnya yang bisa dibuat berepisode-episode. Sesekali ibu dan aku
hanya menggeleng dengan melemparkan sepatah kata pada nenek Sardiah
“ O.. begitu”
Setelah itu ia memulai lagi dengan celoteh baru tanpa jeda.
Di sepanjang jalan yang kulalui kami meninggalkan jejak. Sebuah jejak
orang-orang sawah yang sangat mencintai sawah. Sebuah jejak yang akan kurindu.
Yah, Mungkin setelah menjadi konglomerat nanti.
Catatan
:
1. Massangki : Memanen padi dengan tahap awal,
merebahkan batang padi, biasanya menggunakan sabit
2. Passangki :
buruh panen
3. Dross : Mesin pemanen padi dalam skala
besar
4. Massampa :
memanen padi tahap kedua, memisahkan padi dari batang dengan menghempaskan pada
alat tradisional, biasanya kayu yang sudah dipasang besi di tengah tengah yang
dimodel sedemikian rupa
5. Mappano bine :
menabur benih padi di petakan sawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar