Selasa, 01 Maret 2016

Benarkah?….Akhirnya datang juga. Siapa lagi kalau bukan pacarku. Hatiku mulai angkuh kembali. Membuyarkan firasat-firasat buruk tentangnya. Membuangnya jauh-jauh


“HUJAN DAN BINTANG JATUH”



Kau adalah kombinasi hujan dan bintang jatuh di mataku. Meneduhkan dan berpijar dalam duniaku. Perlahan suara-suara indah di sudut jantungku mendetakkan sebuah alunan, tumbuh, dan kian menggema. Berbunga dalam seribu musim. Membuatku takluk. Berjalan seperti bayangan yang mengikuti tuannya. Aku tak pernah setuju jikalau orang mendefinisikan perasaanku dengan frasa “mabuk cinta”. Walaupun aku yang tengah bercengkrama dengan virus merah jambu di bangku putih abu-abu ini sedang terhipnotis wabahnya, aku tetap saja tidak setuju divonis mabuk cinta. Cukup aku yang mendefinisikan sendiri. Ini duniaku. Berada di sampingnya selalu membuatku merasa seperti gadis-gadis beruntung lainnya yang menemukan sepotong hatinya yang hilang. Dia selalu melengkapi hari-hariku yang kosong. Mengisi gelas-gelas harapanku dengan air kesetiaan. Sungguh tak pernah sekalipun aku jenuh di sampingnya. Bahkan sedetik pun. Dia adalah noktah yang telah merembes dalam permukaan jantungku, membuatnya berdetak kencang. Dan malam ini aku kembali merindukannya. Pacarku. Kaffah Prahasetia
            Hujan masih turun perlahan. Hatiku yang ribut mengingat potret momen berdua bersamanya masih terus meraung. Potongan-potongan siluet wajahnya yang hampir berlabuh di ujung senja pun menggantung dalam pikiranku. Langit-langitku buncah. Bintang-bintang yang kerap kuhitung berdua bersamanya seperti meredup. Jiwaku seperti mati. Tapi tubuhku masih saja duduk disini. Menatap kaca jendela yang semakin berembun di balik kamarku. Bagaimana mungkin dia tak memberi kabar padaku. Sudah satu minggu. Terakhir bertemu dengannya di sebuah halte dekat kampusnya dan sekolahku. Dan dia hanya memberikan sebuah buku. Katanya ini hadiah ulang tahunku. Tak pernah sekalipun kutatap buku yang dia beri. Aku sedikit jengkel saat itu. Kenapa pula dia memberikan buku padahal dia tahu aku tak suka membaca. Beberapa waktu terakhir kucoba melirik judul bukunya yang setia menyendiri di rak buku papa. “Bidadari Surga”. Aku semakin bingung dengan pacarku. Entah angin dari mana yang meniupkan langkahnya memberikanku buku yang bergenre seperti itu. Bahkan aku sempat berpikiran  mungkin dia telah bosan dengan anak SMA seperti aku. Suka merengek, manja, tapi tetap jaga image di depannya. Yah, hatikulah yang suka centil, berkhayal dan menjalar kemana-mana, namun aku? Aku tentu saja menjelma menjagi gadis kalem di depannya. Memasang wajah dewasa. Dan itu semua karena aku takluk. Mencintainya dari sudut hatiku yang tak tersentuh. Tapi dia? Berjalan di sudut hatiku dan kini meninggalkan jejak tanda tanya yang belum bisa kujawab.
            Aku pernah menanyakan kabarnya setelah membaca buku pemberiannya. Dengan basa-basi kutulis bahwa bukunya membuatku menitikkan air mata. Aku akan menjadi bidadari surga untukmu. Lalu di akhir pesanku dengan sedikit gugup kutulis, “Mas, Kaffah baik-baik saja ?”. Semalaman aku menunggu balasannya tapi tak kunjung datang. Teman sebangkuku yang bosan melihatku melamun pun akhirnya angkat bicara
            “Kamu kenapa sih, Mir? Dari kemarin bengong melulu. Ada masalah?” tanyanya bingung.
            “Ngga, cuma bete aja sama Mas Kaffah”, jawabku singkat.
“Mungkin Mas Kaffah sibuk kali, Mir. Ya dia kan mahasiswa tingkat akhir”, lirih Mia dengan nada menghibur.
Aku menghela nafas, menatap Mia.
“Mia, sesibuk-sibuknya Mas Kaffah dia bahkan selalu punya waktu untuk menghubungiku. Tapi akhir-akhir ini aku tak mendapatinya seperti Mas Kaffah dulu”. Tambahku dengan mata berkaca-kaca.
“Atau jangan-jangan Mir….Dia…. maaf ya Mir sebelum semua semakin rumit coba cari info deh Mir, siapa tau mas Kaffah… Selingkuh”, tambahnya dengan kalimat yang membuatku tak bisa membendung air mata. Menetes
Aku masih mematung. Memandang rembulan yang mengintip di balik pohon. Rintik air langit yang sedari tadi turun malu-malu kini menjelma gerimis. Membasahi jalan dan beberapa pejalan kaki di depan rumah. Aku memandang keriuhan di luar. Namun pikiranku tetap melesat tepat pada wajah pacarku. Pacarku yang membuatku gelisah. Menambah kegamangan bersama deras gerimis. Membuat hatiku basah, dan tentu saja mataku. Sedikit lembab. Pikiranku kini melintasi sudut-sudut waktu hingga terpatron pada 2 tahun silam ketika dia memberikan perhatian lebih. Tak pernah menembakku tapi aku mengerti dari pancaran matanya. Dia mencintaiku. Dan aku mencintainya. Di pagi buta datang menjemputku ke sekolah. Waktu itu aku masih kelas 1 SMA dan dia mahasiswa tingkat dua. Umur kami tak terlampau jauh. Dan mama papaku menyukainya. Katanya “selain tampan dia juga alim, Mir” Ucap papa suatu ketika. Setiap hari dia menanam benih-benih cinta di hatiku. Bahkan tak kusadari tumbuh, semakin tinggi dan berbunga. Membuatku mekar dan semakin indah. Setiap malam minggu dia selalu mengajakku nonton atau sekedar main ice skating bareng. Inilah kepingan yang tak mau terdelete dalam memori kepalaku. Seperti virus. Menggerogoti. Dan kini, dia mulai kejam. Tak memberiku kabar bahkan ucapan selamat malam. Dan aku masih mencintainya. Sungguh ini tak adil. Aku masih setia membolak-balik buku pemberiannya walau tak membacanya.
Denting jam di kamarku tak membuyarkan lamunan tentangnya. Dia seperti hujan malam itu. Membuai lalu turun semakin deras. Memberikan kedinginan yang mampu membuat siapa saja tertidur lelap. Tatapanku kualihkan keluar jendela. Di bawah hujan yang semakin deras aku melihat wajahnya. Tersenyum kepadaku. Aku pun melempar senyum termanisku. Hingga kudapati bahwa itu adalah halusinasiku yang berlebihan. Aku berdialog dengan diriku sendiri.
“Mir, kamu sudah gila, lelaki itu sudah membuatmu benar-benar gila…” Aku cepat-cepat membujuk diriku agar tak mengutukinya. Dari sisi lain hatiku jelas sudah melemparkannya sumpah serapah. Tapi disisi yang lain ia semakin menjadi-jadi. Ia menjelma hujan. Semakin deras dan membasahi hatiku yang gamang. Bagaimana mungkin kamu masih mencintainya padahal dia mengabaikanmu? Oh Tuhan inikah rasa yang engkau karuniakan kepadaku? Tetap mencintai orang yang entah masih memikirkanku sedetikpun atau bahkan sudah menguburku hidup-hidup? Tak kutemukan jawaban hingga hujan sedikit mereda.
Pikiranku kini membentuk sebuah rasi bintang yang dulu ia gambar dalam kepalaku. Membuatku mencintai geografi. Yah, Mas Kaffah adalah mahasiswa Geografi Murni di sebuah Universitas ternama di kotaku. Selain tampan dan alim, otaknya juga tak tertandingi. Aku bahkan pernah mendampinginya ke Negara seberang, negeri matahari terbit untuk sebuah Turnamen Geografi. Banyak yang tidak percaya. Anak SMA yang manja dan suka jaga image bersanding dengan Mahasiswa  kharismatik. Suatu malam setelah Turnamen selesai, kami menyempatkan bersantai di sebuah kedai di pusat kota lalu dia bercerita tentang bintang jatuh.
“Mir, kamu tau gak hal yang membuatku jatuh hati kepadamu?
Aku menunduk, lagi-lagi memasang wajah dewasa. Aku menggeleng.
“Selain sikapmu yang membuatku nyaman. Aku melihat bintang jatuh di matamu. Berpijar, Melesat dan terkapar. Ia kemudian mendarat di sini. Ia memegang tanganku dan menempelkannya di dadanya. Mira Adinda, seorang wanita yang mampu membuatku tersihir keping-keping bintang jatuh. Ia dapat mengabulkan permintaan setiap orang dan aku mencintainya, yang kini hingga di matamu. Setiap kali engkau memandangku, aku melihatnya. Terpantul di mataku, membentuk sebuah rasi yang indah. Lalu tanpa aba-aba ia jatuh ke bumi. Membuatku mendarat dalam genggamanmu, Mir.
Huaaaaaa…. Itu adalah pecahan kisah teromantisku yang hilang. Kini hanya ada hujan yang menemani malamku. Tak ada lagi dia. Kaca jendelaku semakin berembun. Beberapa orang semakin ramai berlalu lalang di depan rumah. Suara kendaraan pun mulai terdengar menyingkirkan suara hujan yang mulai bosan meringkih. Tatapanku kosong. Tak mungkin dia terpikat pada wanita lain. Aku tahu dia. Setia. Walaupun banyak wanita di kampus yang menggodanya toh dia tetap luluh di mataku. Aku adalah bintang jatuhnya yang tak ia temukan pada wanita manapun. Batinku kembali berdialog. “Kamu semakin gila, Mira. Hentikan”. Kuputuskan untuk tak membayangkan apapun tentangnya. Berharap suara derap kakinya akan menghilang dari telingaku. Kututup file memori pikiranku tentang mas Kaffah. Walau berat akan kubujuk hatiku untuk berdamai dengan jiwaku. Aku kembali menatap jendela dan menggigit-gigit ujung pensil. Melupakan mas Kaffah
            Tiga hari yang lalu kuputuskan ke kampusnya. Aku membawakan kue buatanku di pelataran kampusnya, aku tak mendapati senyum manis di balik bibirnya. Aku bersyukur ia baik-baik saja. Tak berani kutanyakan kabarnya. Bahkan sepatah kata pun hari itu tak kulontarkan. Diam seribu bahasa. Terakhir setelah memakan kue buatanku di sebuah Gazebo, ia menunduk dan buru-buru melirik teman Rohisnya (dari penampilan dan pakaiannya kudapati bahwa mereka adalah teman Rohis Mas Kaffah)  yang sedari tadi terlihat melambai. Selain kerap mengikuti diskusi ilmiah, Mas Kaffah memang suka mengaji bareng teman Rohisnya. Aku pun melempar senyum terpaksa. Ia kemudian pergi. Meninggalkanku bersama beberapa potong kue yang masih tersisa.
            Hingga malam ini tiba. Aku terperangkap dalam kamarku, memikirkannya. Lebih tepatnya hatiku yang menjalar kemana-mana seperti anjing liar merongrong kesana kemari. Menculik waktu untuk kuingat wajah manisnya, hidungnya yang mancung, kulitnya putih bersih, dan postur tubuhnya yang proporsional. Ia bersaing bersama sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Ataukah benar Mas Kaffah sudah bosan melihat mataku? Tapi bagaimana mungkin? Aku menarik napas.
            Hujan di luar sepertinya sudah reda. Ia berhenti memukul-mukul atap rumah dan jalan raya. Ia kini jinak. Tinggal hening yang melanjutkan petualangannya. Sehingga kudapati diriku kini sepi. Tersadar bahwa mama dan papa ternyata ada makan malam bersama kliennya. Aku benar-benar sendiri.
Selang beberapa detik ketika kusimpan buku pemberiannya di laci meja. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melonjak. Hatiku tak kalah bergetar. Mungkinkah? Mas Kaffah atau… pesan dari operator kartu yang akhir-akhir ini mengangguku? Cepat-cepat kuraih ponsel di atas meja.
“Assalamu alaikum…Udah makan Mir?” Sebuah pesan singkat menggetarkan hatiku. Pesan yang sudah lama kutunggu hingga membuatku berdansa dengan hujan hingga flashback bersama bintang jatuh. Aku menatap lama-lama layar ponselku. Benarkah?….Akhirnya datang juga. Siapa lagi kalau bukan pacarku. Hatiku mulai angkuh kembali. Membuyarkan firasat-firasat buruk tentangnya. Membuangnya jauh-jauh. Kuanggap semua baik-baik saja lalu membuatku seketika membalas pesannya tanpa kedipan mata.
            “Belom nih, mau ngajakin makan?” balasku, sambil memasang emotikon senyum menggoda (seperti tidak tejadi apa-apa. Tanpa pergulatan batin. Aku benar-benar melupakan kegamanganku. Mas Kaffah kembali)
“Sebenernya sih ngga ngajakin. Tapi kalau mau ayo...” (Kata-katanya kembali seperti dulu. Ah, mungkin akhir-akhir ini dia memang sibuk. Baru sempat menghubungiku).
Ketebak deh… Setiap kali ingin mengajak makan atau setidaknya jalan berdua sekedar jogging, dia kerap memberikan sentuhan pengantar. Katanya sih supaya tidak langsung to the point. Ucapnya suatu hari. Dia memang tipikal lelaki yang selalu membuatku penasaran. Dan tentu saja telah membuatku galau. Tapi aku pikir ini adalah adalah akhir. Akhir kegalauanku, karena Mas Kaffah kembali. Kembali akan memandang bintang jatuhnya di mataku
Aku menutup ponsel. Membuat adegan-adegan loncat laksana seorang wanita yang baru saja ditembak. Bagaimana tidak, setelah seminggu tiada kabar dan tidak bertemu dia yang mungkin  sibuk dengan tugas akhirnya. Tiba-tiba ngajakin makan juga. Berdua. Aku luluh.
            Seketika semua pikiran-pikiranku yang membuat jiwaku hampir menyerah (walaupun hatiku takkan menyerah) sirna begitu saja. Entah mengapa kepercayaanku akan mas Kaffah kini tumbuh kembali. Laksana bunga yang layu kini mekar setelah disiram hujan. Aku memilih kostum sederhana. Kami akan makan di sebuah resto kecil di perempatan jalan dekat kampus pacarku. Dan aku harus tampil dewasa dan anggun. Seperti malam-malam sebelumnya. Aku tak perlu mempoles wajahku dengan perangkat make up masa kini. Apalagi eye liner supaya mataku tampil lebih cantik. Toh tanpa semua itu mas Kaffah pasti akan menatapku dalam. Melihat bintang jatuhnya disini. Di Mataku.
            Hujan tak benar-benar reda. Kendaraan dan beberapa pejalan kaki terlihat ramai dibalik jendela Resto ini. Tapi alunan klasik di Resto ini membuatku semakin malu berhadapan dengan lelaki di hadapanku. Malu setelah satu minggu tak bersua. Bahkan sekalipun. Dan tanda Tanya di kepalaku yang sedari tadi sudah kubuang jauh-jauh kini perlahan menghantui. Bibirku yang telah kuberi sentuhan lip gloss tipis sesekali kugigit. Kedua tanganku hanya saling memijit di balik meja. Aku sesekali mengibas rambutku yang jatuh memeluk dahiku. Kurapatkan kembali jemariku yang bergulat di bawah meja. Di atasnya sudah terhidang makanan favorit mas Kaffah: Sup Gurita. Aku sesekali melirik wajahnya. Tak berubah sedikitpun (malah tambah ganteng plus memukau), hanya sedikit tumbuh kumis tipis dan beberapa lembar jenggot yang membuatnya tambah mempesonaku. Dia menunduk. Aku sesekali mencuri pandangan. Dia mengenakan kemeja panjang biru muda dengan kombinasi merah muda. Warna favoritnya. Aku memaksa tenggorokanku untuk sedikit batuk. Berharap mas Kaffah menghiraukanku. Dia tetap diam dan menunduk. Di kepalaku kini ada mind map. Bercabang dan semakin banyak. Tentu saja di isi oleh pertanyaan-pertanyaan sukar. Apakah aku punya salah? Apakah aku pernah menyinggung perasaan pacarku? Aku mencoba mengingat-ingat terakhir kali bertemu. Ah tidak pernah. Ataukah dia enggan membuka pembicaraan karena lama tak memberikan kabar? Tapi yang aku kenal, mas Kaffah tak seperti itu. Ia Ramah. He’s easy going. Tapi sampai detik ini tak satupun kata keluar dari mulutnya.
            “Mas, Baik-baik saja?” Kuberanikan membuka percakapan.
            Dia masih menuduk. Sambil menatap layar ponselnya. Enggan melihatku.
            “Tentu saja, Mir. Mas baik-baik saja. Jawabnya dengan lantang.
            “Tapi kok….” Aku menghentikan kata-kataku. Takut keluar spontan dan menjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
            Aku semakin bingung. Seperti berada di dalam kotak. Sendiri. Duduk menyudut dan memandang langit-langit. Dia sepertinya menangkap keresahanku. Resah karena sedari tadi didiami. Bibirnya seperti bergetar. Persis seperti ponselku yang bergetar ketika mendapati pesannya.
            “Mira, kau adalah seseorang yang telah dianugerahkan Allah dalam perjalanan hidupku. Matamu telah memancarkan bintang jatuh. Berpijar dan mendarat di hatiku” Mas Kaffah diam sejenak. Ia tak menatapku, tetapi menatap orang-orang di luar dari balik jendela resto. Lalu ia melanjutkan kata-katanya…
            “Mira, Sungguh indah potongan-potongan kenangan yang telah kau susun dalam mozaik hatiku. Ketenangan hatimu, parasmu yang membuatku luluh. Perlakuanmu kepadaku. Semua seperti oase dalam kering hatiku…” Dia berhenti. Ucapannya terbata-bata.
            “Kok suasananya jadi gini Mas…?” batinku sambil menggigit bibir. Kutatap matanya. Ia perlahan menatap mataku. Walau agak kaku, ia tetap menatap mataku. Tapi tak kudapati pantulan bintang jatuh di matanya. Pudar. Pikiranku kembali menjalar kemana-mana. Ini adalah pertemuan asing dengannya. Tentu saja sebelumnya tak pernah seperti ini. Jiwaku kembali mengetuk-ngetuk hatiku. “Mungkinkah ia akan jujur kepadaku kalau ia sudah bosan dengan anak kecil? Atau dia akan mengatakan bahwa ia telah menemukan bintang jatuh di mata wanita yang jauh lebih dewasa dibanding aku? Takut, bimbang, ragu, cemburu, dan penasaran bercampur jadi satu. Membentuk buih-buih dalam gelas minumanku. Aku membalas menunduk. Tak mampu kulihat lagi matanya. Mataku hanya menangkap garis merah jambu yang indah di saku kemejanya. Aku diam dan menunduk. Lama.
            “Mira… Kau adalah sosok yang telah mengantarkanku pada sebuah jalan. Jalan memantaskan diri. Darimu aku belajar bahwa dengan hanya sebuah alasan bintang jatuh di matamu yang membuatku jatuh hati tak akan cukup menggenapkan rasa ini kepadamu. Kau terlalu indah Mira. Dan Aku? Aku adalah hamba yang masih berada di sebuah persimpangan. Lalu kau berdiri menunjukkanku sebuah jalan. Jalan menuju tempat maha cinta”.
            Aku merasakan dadaku sesak. Tak pernah kudapati mas Kaffah sebelumnya berkata seperti ini. Dia memang suka kajian islami, tapi tak sedalam ini. Dan aku ditenggelamkannya. Jauh di dasar hatinya yang kini tak bisa kuterka. Mulutku terkunci.
            “Mira… Beberapa hari yang lalu aku berdoa. Mempertanyakan hubungan kita kepada sang maha cinta. Hingga aku seperti mendapati jawaban entah dari penjuru mana bahwa aku adalah seorang lelaki yang tanpa bekal, bagaimana mungkin bisa terus-menerus menghabiskan waktu bersamamu? Kau adalah rintik hujan bagiku, Mira. Turun perlahan meneduhkan hatiku yang tandus. Membasahi sudut-sudut hatiku yang lara. Kau adalah…”
            “Mas Kaffah… Cukup Mas. Mungkin Jendela basah ini akan menjadi saksi terakhir kali aku memandang matamu.  Aku harap bintang jatuh itu memantul dengan pijarnya yang menyilaukan. Mas Kaffah adalah kakak yang telah mendewasakan Mira. Dan kini Mira mengerti…” Lirihku setengah terisak. Kupaksa mimic wajahku untuk tetap tenang.
            “Aku harap setelah ini, ketika mas Kaffah telah menemukan jalan cinta dari-Nya, cinta yang hakiki. Datanglah padaku Mas.”
Bukannya ia tak berani memutuskan sebuah hubungan denganku lebih dulu. Tapi aku mengerti betul ia. Lelakiku dulu yang kini harus kulepaskan agar menemukan jalan-Nya. Tentu saja tanpa gangguanku yang selalu meminta kabarnya. Aku mengerti betul ia. Rasa cinta kepada Sang Maha Cinta lebih besar daripada cinta monyet denganku yang hanya akan membuang-buang waktunya. Ah, aku bangga kepada Mas ku. Sekaligus sedih. Melepasnya
            Tanpa salam perpisahan aku berdiri menuju pintu keluar. Kudapati ia masih menunduk. Aku menerobos hujan yang sedari tadi tinggal gerimis. Dari luar Resto masih kudapati wajahnya. Kini menatap jendela basah. Tentu dengan tatapan yang optimis. Bintang jatuh telah mengarahkan Mas ku pada sebuah jalan kebenaran. Sesekali kubanggakan hatiku untuk lelaki yang pernah singgah itu.
“Semoga istiqomahnya menjadi trotoar menemukan cinta yang sebenarnya” Lirihku.
Aku kini benar-benar merasakan dewasa. Dewasa yang tak dibuat- buat lagi. Dewasa yang sesungguhnya. Aku bahkan kini telah duduk di sebuah bangku perusahaan ternama di kotaku. Pekerjaan membuatku betah di kantor. Rumah hanya menjadi tempat pulang untuk sejenak mengenang masa lalu. Aku melanjutkan pekerjaanku. Membuat jurnal kontrak dan beberapa buah laporan. Tiba-tiba dalam memori terdalamku, muncul wajahya. Aku berusaha menepis, menutup kotak yang telah lama kututup rapat-rapat.
Malam ini aku ingin sekali tidur di rumah. Merasakan atmosfir kamarku yang tak pernah berubah dari dulu: Tenang. Dia? Entah dia kini berada di belahan bumi mana. Aku enggan mengusik hatiku. Kubiarkan Jiwaku menguburnya hidup-hidup.
Seperti malam-malam sebelumnya, hatiku masih menengadah. Sulit kutepis. Mengais-ngais sisa tanya di balik rinai hujan. Engkau mulai memanyungiku di bawah rintik hujan yang menjelma gerimis. Dan membisikkanku tentang bintang jatuh. Ada sebuah cahaya disana. Membawamu pergi dan menjelma titik di kejauhan. Hilang.
Malam itu, kau benar-benar menjelma bintang jatuh. Melesat, berpijar, dan aku memejamkan mata.

                                                                                                                       
                                                                                                   Makassar, 2 Maret 2016/04:59 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar