“HUJAN
DAN BINTANG JATUH”
Kau adalah kombinasi hujan dan bintang jatuh di mataku.
Meneduhkan dan berpijar dalam duniaku. Perlahan suara-suara indah di sudut
jantungku mendetakkan sebuah alunan, tumbuh, dan kian menggema. Berbunga dalam
seribu musim. Membuatku takluk. Berjalan seperti bayangan yang mengikuti
tuannya. Aku tak pernah setuju jikalau orang mendefinisikan perasaanku dengan
frasa “mabuk cinta”. Walaupun aku yang tengah bercengkrama dengan virus merah
jambu di bangku putih abu-abu ini sedang terhipnotis wabahnya, aku tetap saja
tidak setuju divonis mabuk cinta. Cukup aku yang mendefinisikan sendiri. Ini
duniaku. Berada di sampingnya selalu membuatku merasa seperti gadis-gadis
beruntung lainnya yang menemukan sepotong hatinya yang hilang. Dia selalu
melengkapi hari-hariku yang kosong. Mengisi gelas-gelas harapanku dengan air
kesetiaan. Sungguh tak pernah sekalipun aku jenuh di sampingnya. Bahkan sedetik
pun. Dia adalah noktah yang telah merembes dalam permukaan jantungku,
membuatnya berdetak kencang. Dan malam ini aku kembali merindukannya. Pacarku.
Kaffah Prahasetia
Hujan masih
turun perlahan. Hatiku yang ribut mengingat potret momen berdua bersamanya
masih terus meraung. Potongan-potongan siluet wajahnya yang hampir berlabuh di
ujung senja pun menggantung dalam pikiranku. Langit-langitku buncah.
Bintang-bintang yang kerap kuhitung berdua bersamanya seperti meredup. Jiwaku
seperti mati. Tapi tubuhku masih saja duduk disini. Menatap kaca jendela yang
semakin berembun di balik kamarku. Bagaimana mungkin dia tak memberi kabar
padaku. Sudah satu minggu. Terakhir bertemu dengannya di sebuah halte dekat
kampusnya dan sekolahku. Dan dia hanya memberikan sebuah buku. Katanya ini
hadiah ulang tahunku. Tak pernah sekalipun kutatap buku yang dia beri. Aku sedikit
jengkel saat itu. Kenapa pula dia memberikan buku padahal dia tahu aku tak suka
membaca. Beberapa waktu terakhir kucoba melirik judul bukunya yang setia
menyendiri di rak buku papa. “Bidadari Surga”. Aku semakin bingung dengan
pacarku. Entah angin dari mana yang meniupkan langkahnya memberikanku buku yang
bergenre seperti itu. Bahkan aku sempat berpikiran mungkin dia telah bosan dengan anak SMA
seperti aku. Suka merengek, manja, tapi tetap jaga image di depannya. Yah,
hatikulah yang suka centil, berkhayal dan menjalar kemana-mana, namun aku? Aku
tentu saja menjelma menjagi gadis kalem di depannya. Memasang wajah dewasa. Dan
itu semua karena aku takluk. Mencintainya dari sudut hatiku yang tak tersentuh.
Tapi dia? Berjalan di sudut hatiku dan kini meninggalkan jejak tanda tanya yang
belum bisa kujawab.
Aku pernah
menanyakan kabarnya setelah membaca buku pemberiannya. Dengan basa-basi kutulis
bahwa bukunya membuatku menitikkan air mata. Aku akan menjadi bidadari surga
untukmu. Lalu di akhir pesanku dengan sedikit gugup kutulis, “Mas, Kaffah
baik-baik saja ?”. Semalaman aku menunggu balasannya tapi tak kunjung datang.
Teman sebangkuku yang bosan melihatku melamun pun akhirnya angkat bicara
“Kamu kenapa
sih, Mir? Dari kemarin bengong melulu. Ada masalah?” tanyanya bingung.
“Ngga, cuma
bete aja sama Mas Kaffah”, jawabku singkat.
“Mungkin Mas Kaffah sibuk kali, Mir.
Ya dia kan mahasiswa tingkat akhir”, lirih Mia dengan nada menghibur.
Aku menghela nafas, menatap Mia.
“Mia, sesibuk-sibuknya Mas Kaffah dia
bahkan selalu punya waktu untuk menghubungiku. Tapi akhir-akhir ini aku tak
mendapatinya seperti Mas Kaffah dulu”. Tambahku dengan mata berkaca-kaca.
“Atau jangan-jangan Mir….Dia…. maaf
ya Mir sebelum semua semakin rumit coba cari info deh Mir, siapa tau mas
Kaffah… Selingkuh”, tambahnya dengan kalimat yang membuatku tak bisa membendung
air mata. Menetes
Aku masih mematung. Memandang rembulan
yang mengintip di balik pohon. Rintik air langit yang sedari tadi turun
malu-malu kini menjelma gerimis. Membasahi jalan dan beberapa pejalan kaki di
depan rumah. Aku memandang keriuhan di luar. Namun pikiranku tetap melesat
tepat pada wajah pacarku. Pacarku yang membuatku gelisah. Menambah kegamangan
bersama deras gerimis. Membuat hatiku basah, dan tentu saja mataku. Sedikit
lembab. Pikiranku kini melintasi sudut-sudut waktu hingga terpatron pada 2
tahun silam ketika dia memberikan perhatian lebih. Tak pernah menembakku tapi
aku mengerti dari pancaran matanya. Dia mencintaiku. Dan aku mencintainya. Di
pagi buta datang menjemputku ke sekolah. Waktu itu aku masih kelas 1 SMA dan
dia mahasiswa tingkat dua. Umur kami tak terlampau jauh. Dan mama papaku
menyukainya. Katanya “selain tampan dia juga alim, Mir” Ucap papa suatu ketika.
Setiap hari dia menanam benih-benih cinta di hatiku. Bahkan tak kusadari
tumbuh, semakin tinggi dan berbunga. Membuatku mekar dan semakin indah. Setiap
malam minggu dia selalu mengajakku nonton atau sekedar main ice skating bareng. Inilah kepingan yang
tak mau terdelete dalam memori kepalaku. Seperti virus. Menggerogoti. Dan kini,
dia mulai kejam. Tak memberiku kabar bahkan ucapan selamat malam. Dan aku masih
mencintainya. Sungguh ini tak adil. Aku masih setia membolak-balik buku
pemberiannya walau tak membacanya.
Denting jam di kamarku tak membuyarkan
lamunan tentangnya. Dia seperti hujan malam itu. Membuai lalu turun semakin
deras. Memberikan kedinginan yang mampu membuat siapa saja tertidur lelap.
Tatapanku kualihkan keluar jendela. Di bawah hujan yang semakin deras aku
melihat wajahnya. Tersenyum kepadaku. Aku pun melempar senyum termanisku.
Hingga kudapati bahwa itu adalah halusinasiku yang berlebihan. Aku berdialog
dengan diriku sendiri.
“Mir, kamu sudah gila, lelaki itu
sudah membuatmu benar-benar gila…” Aku cepat-cepat membujuk diriku agar tak
mengutukinya. Dari sisi lain hatiku jelas sudah melemparkannya sumpah serapah.
Tapi disisi yang lain ia semakin menjadi-jadi. Ia menjelma hujan. Semakin deras
dan membasahi hatiku yang gamang. Bagaimana mungkin kamu masih mencintainya
padahal dia mengabaikanmu? Oh Tuhan inikah rasa yang engkau karuniakan
kepadaku? Tetap mencintai orang yang entah masih memikirkanku sedetikpun atau
bahkan sudah menguburku hidup-hidup? Tak kutemukan jawaban hingga hujan sedikit
mereda.
Pikiranku kini membentuk sebuah rasi
bintang yang dulu ia gambar dalam kepalaku. Membuatku mencintai geografi. Yah,
Mas Kaffah adalah mahasiswa Geografi Murni di sebuah Universitas ternama di
kotaku. Selain tampan dan alim, otaknya juga tak tertandingi. Aku bahkan pernah
mendampinginya ke Negara seberang, negeri matahari terbit untuk sebuah Turnamen
Geografi. Banyak yang tidak percaya. Anak SMA yang manja dan suka jaga image bersanding dengan Mahasiswa kharismatik. Suatu malam setelah Turnamen
selesai, kami menyempatkan bersantai di sebuah kedai di pusat kota lalu dia
bercerita tentang bintang jatuh.
“Mir, kamu tau gak hal yang membuatku
jatuh hati kepadamu?
Aku menunduk, lagi-lagi memasang
wajah dewasa. Aku menggeleng.
“Selain sikapmu yang membuatku
nyaman. Aku melihat bintang jatuh di matamu. Berpijar, Melesat dan terkapar. Ia
kemudian mendarat di sini. Ia memegang tanganku dan menempelkannya di dadanya. Mira
Adinda, seorang wanita yang mampu membuatku tersihir keping-keping bintang
jatuh. Ia dapat mengabulkan permintaan setiap orang dan aku mencintainya, yang
kini hingga di matamu. Setiap kali engkau memandangku, aku melihatnya. Terpantul
di mataku, membentuk sebuah rasi yang indah. Lalu tanpa aba-aba ia jatuh ke
bumi. Membuatku mendarat dalam genggamanmu, Mir.
Huaaaaaa…. Itu adalah pecahan kisah
teromantisku yang hilang. Kini hanya ada hujan yang menemani malamku. Tak ada
lagi dia. Kaca jendelaku semakin berembun. Beberapa orang semakin ramai berlalu
lalang di depan rumah. Suara kendaraan pun mulai terdengar menyingkirkan suara
hujan yang mulai bosan meringkih. Tatapanku kosong. Tak mungkin dia terpikat
pada wanita lain. Aku tahu dia. Setia. Walaupun banyak wanita di kampus yang
menggodanya toh dia tetap luluh di mataku. Aku adalah bintang jatuhnya yang tak
ia temukan pada wanita manapun. Batinku kembali berdialog. “Kamu semakin gila,
Mira. Hentikan”. Kuputuskan untuk tak membayangkan apapun tentangnya. Berharap
suara derap kakinya akan menghilang dari telingaku. Kututup file memori
pikiranku tentang mas Kaffah. Walau berat akan kubujuk hatiku untuk berdamai
dengan jiwaku. Aku kembali menatap jendela dan menggigit-gigit ujung pensil.
Melupakan mas Kaffah
Tiga hari
yang lalu kuputuskan ke kampusnya. Aku membawakan kue buatanku di pelataran
kampusnya, aku tak mendapati senyum manis di balik bibirnya. Aku bersyukur ia
baik-baik saja. Tak berani kutanyakan kabarnya. Bahkan sepatah kata pun hari
itu tak kulontarkan. Diam seribu bahasa. Terakhir setelah memakan kue buatanku
di sebuah Gazebo, ia menunduk dan buru-buru melirik teman Rohisnya (dari penampilan
dan pakaiannya kudapati bahwa mereka adalah teman Rohis Mas Kaffah) yang sedari tadi terlihat melambai. Selain
kerap mengikuti diskusi ilmiah, Mas Kaffah memang suka mengaji bareng teman
Rohisnya. Aku pun melempar senyum terpaksa. Ia kemudian pergi. Meninggalkanku
bersama beberapa potong kue yang masih tersisa.
Hingga malam
ini tiba. Aku terperangkap dalam kamarku, memikirkannya. Lebih tepatnya hatiku
yang menjalar kemana-mana seperti anjing liar merongrong kesana kemari.
Menculik waktu untuk kuingat wajah manisnya, hidungnya yang mancung, kulitnya
putih bersih, dan postur tubuhnya yang proporsional. Ia bersaing bersama sebuah
tanda tanya besar di kepalaku. Ataukah benar Mas Kaffah sudah bosan melihat
mataku? Tapi bagaimana mungkin? Aku menarik napas.
Hujan di
luar sepertinya sudah reda. Ia berhenti memukul-mukul atap rumah dan jalan
raya. Ia kini jinak. Tinggal hening yang melanjutkan petualangannya. Sehingga
kudapati diriku kini sepi. Tersadar bahwa mama dan papa ternyata ada makan
malam bersama kliennya. Aku benar-benar sendiri.
Selang beberapa detik ketika kusimpan
buku pemberiannya di laci meja. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melonjak.
Hatiku tak kalah bergetar. Mungkinkah? Mas Kaffah atau… pesan dari operator
kartu yang akhir-akhir ini mengangguku? Cepat-cepat kuraih ponsel di atas meja.
“Assalamu alaikum…Udah makan Mir?”
Sebuah pesan singkat menggetarkan hatiku. Pesan yang sudah lama kutunggu hingga
membuatku berdansa dengan hujan hingga flashback bersama bintang jatuh. Aku menatap
lama-lama layar ponselku. Benarkah?….Akhirnya datang juga. Siapa lagi kalau
bukan pacarku. Hatiku mulai angkuh kembali. Membuyarkan firasat-firasat buruk
tentangnya. Membuangnya jauh-jauh. Kuanggap semua baik-baik saja lalu membuatku
seketika membalas pesannya tanpa kedipan mata.
“Belom nih,
mau ngajakin makan?” balasku, sambil memasang emotikon senyum menggoda (seperti
tidak tejadi apa-apa. Tanpa pergulatan batin. Aku benar-benar melupakan
kegamanganku. Mas Kaffah kembali)
“Sebenernya sih ngga ngajakin. Tapi
kalau mau ayo...” (Kata-katanya kembali seperti dulu. Ah, mungkin akhir-akhir
ini dia memang sibuk. Baru sempat menghubungiku).
Ketebak
deh… Setiap kali ingin mengajak makan atau setidaknya jalan berdua sekedar
jogging, dia kerap memberikan sentuhan pengantar. Katanya sih supaya tidak
langsung to the point. Ucapnya suatu
hari. Dia memang tipikal lelaki yang selalu membuatku penasaran. Dan tentu saja
telah membuatku galau. Tapi aku pikir ini adalah adalah akhir. Akhir
kegalauanku, karena Mas Kaffah kembali. Kembali akan memandang bintang jatuhnya
di mataku
Aku
menutup ponsel. Membuat adegan-adegan loncat laksana seorang wanita yang baru
saja ditembak. Bagaimana tidak, setelah seminggu tiada kabar dan tidak bertemu
dia yang mungkin sibuk dengan tugas akhirnya.
Tiba-tiba ngajakin makan juga. Berdua. Aku luluh.
Seketika semua pikiran-pikiranku
yang membuat jiwaku hampir menyerah (walaupun hatiku takkan menyerah) sirna
begitu saja. Entah mengapa kepercayaanku akan mas Kaffah kini tumbuh kembali.
Laksana bunga yang layu kini mekar setelah disiram hujan. Aku memilih kostum
sederhana. Kami akan makan di sebuah resto kecil di perempatan jalan dekat
kampus pacarku. Dan aku harus tampil dewasa dan anggun. Seperti malam-malam
sebelumnya. Aku tak perlu mempoles wajahku dengan perangkat make up masa kini. Apalagi eye liner
supaya mataku tampil lebih cantik. Toh tanpa semua itu mas Kaffah pasti akan
menatapku dalam. Melihat bintang jatuhnya disini. Di Mataku.
Hujan tak benar-benar reda. Kendaraan
dan beberapa pejalan kaki terlihat ramai dibalik jendela Resto ini. Tapi alunan
klasik di Resto ini membuatku semakin malu berhadapan dengan lelaki di
hadapanku. Malu setelah satu minggu tak bersua. Bahkan sekalipun. Dan tanda
Tanya di kepalaku yang sedari tadi sudah kubuang jauh-jauh kini perlahan
menghantui. Bibirku yang telah kuberi sentuhan lip gloss tipis sesekali
kugigit. Kedua tanganku hanya saling memijit di balik meja. Aku sesekali
mengibas rambutku yang jatuh memeluk dahiku. Kurapatkan kembali jemariku yang
bergulat di bawah meja. Di atasnya sudah terhidang makanan favorit mas Kaffah:
Sup Gurita. Aku sesekali melirik wajahnya. Tak berubah sedikitpun (malah tambah
ganteng plus memukau), hanya sedikit
tumbuh kumis tipis dan beberapa lembar jenggot yang membuatnya tambah
mempesonaku. Dia menunduk. Aku sesekali mencuri pandangan. Dia mengenakan
kemeja panjang biru muda dengan kombinasi merah muda. Warna favoritnya. Aku
memaksa tenggorokanku untuk sedikit batuk. Berharap mas Kaffah menghiraukanku.
Dia tetap diam dan menunduk. Di kepalaku kini ada mind map. Bercabang dan semakin banyak. Tentu saja di isi oleh
pertanyaan-pertanyaan sukar. Apakah aku punya salah? Apakah aku pernah
menyinggung perasaan pacarku? Aku mencoba mengingat-ingat terakhir kali
bertemu. Ah tidak pernah. Ataukah dia enggan membuka pembicaraan karena lama
tak memberikan kabar? Tapi yang aku kenal, mas Kaffah tak seperti itu. Ia
Ramah. He’s easy going. Tapi sampai
detik ini tak satupun kata keluar dari mulutnya.
“Mas, Baik-baik saja?” Kuberanikan
membuka percakapan.
Dia masih menuduk. Sambil menatap
layar ponselnya. Enggan melihatku.
“Tentu saja, Mir. Mas baik-baik
saja. Jawabnya dengan lantang.
“Tapi kok….” Aku menghentikan
kata-kataku. Takut keluar spontan dan menjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku semakin bingung. Seperti berada
di dalam kotak. Sendiri. Duduk menyudut dan memandang langit-langit. Dia
sepertinya menangkap keresahanku. Resah karena sedari tadi didiami. Bibirnya
seperti bergetar. Persis seperti ponselku yang bergetar ketika mendapati
pesannya.
“Mira, kau adalah seseorang yang
telah dianugerahkan Allah dalam perjalanan hidupku. Matamu telah memancarkan
bintang jatuh. Berpijar dan mendarat di hatiku” Mas Kaffah diam sejenak. Ia tak
menatapku, tetapi menatap orang-orang di luar dari balik jendela resto. Lalu ia
melanjutkan kata-katanya…
“Mira, Sungguh indah
potongan-potongan kenangan yang telah kau susun dalam mozaik hatiku. Ketenangan
hatimu, parasmu yang membuatku luluh. Perlakuanmu kepadaku. Semua seperti oase
dalam kering hatiku…” Dia berhenti. Ucapannya terbata-bata.
“Kok suasananya jadi gini Mas…?”
batinku sambil menggigit bibir. Kutatap matanya. Ia perlahan menatap mataku.
Walau agak kaku, ia tetap menatap mataku. Tapi tak kudapati pantulan bintang jatuh
di matanya. Pudar. Pikiranku kembali menjalar kemana-mana. Ini adalah pertemuan
asing dengannya. Tentu saja sebelumnya tak pernah seperti ini. Jiwaku kembali
mengetuk-ngetuk hatiku. “Mungkinkah ia akan jujur kepadaku kalau ia sudah bosan
dengan anak kecil? Atau dia akan mengatakan bahwa ia telah menemukan bintang
jatuh di mata wanita yang jauh lebih dewasa dibanding aku? Takut, bimbang,
ragu, cemburu, dan penasaran bercampur jadi satu. Membentuk buih-buih dalam
gelas minumanku. Aku membalas menunduk. Tak mampu kulihat lagi matanya. Mataku
hanya menangkap garis merah jambu yang indah di saku kemejanya. Aku diam dan
menunduk. Lama.
“Mira… Kau adalah sosok yang telah
mengantarkanku pada sebuah jalan. Jalan memantaskan diri. Darimu aku belajar
bahwa dengan hanya sebuah alasan bintang jatuh di matamu yang membuatku jatuh
hati tak akan cukup menggenapkan rasa ini kepadamu. Kau terlalu indah Mira. Dan
Aku? Aku adalah hamba yang masih berada di sebuah persimpangan. Lalu kau
berdiri menunjukkanku sebuah jalan. Jalan menuju tempat maha cinta”.
Aku merasakan dadaku sesak. Tak
pernah kudapati mas Kaffah sebelumnya berkata seperti ini. Dia memang suka
kajian islami, tapi tak sedalam ini. Dan aku ditenggelamkannya. Jauh di dasar
hatinya yang kini tak bisa kuterka. Mulutku terkunci.
“Mira… Beberapa hari yang lalu aku berdoa.
Mempertanyakan hubungan kita kepada sang maha cinta. Hingga aku seperti
mendapati jawaban entah dari penjuru mana bahwa aku adalah seorang lelaki yang
tanpa bekal, bagaimana mungkin bisa terus-menerus menghabiskan waktu bersamamu?
Kau adalah rintik hujan bagiku, Mira. Turun perlahan meneduhkan hatiku yang
tandus. Membasahi sudut-sudut hatiku yang lara. Kau adalah…”
“Mas Kaffah… Cukup Mas. Mungkin
Jendela basah ini akan menjadi saksi terakhir kali aku memandang matamu. Aku harap bintang jatuh itu memantul dengan
pijarnya yang menyilaukan. Mas Kaffah adalah kakak yang telah mendewasakan
Mira. Dan kini Mira mengerti…” Lirihku setengah terisak. Kupaksa mimic wajahku
untuk tetap tenang.
“Aku harap setelah ini, ketika mas
Kaffah telah menemukan jalan cinta dari-Nya, cinta yang hakiki. Datanglah
padaku Mas.”
Bukannya
ia tak berani memutuskan sebuah hubungan denganku lebih dulu. Tapi aku mengerti
betul ia. Lelakiku dulu yang kini harus kulepaskan agar menemukan jalan-Nya.
Tentu saja tanpa gangguanku yang selalu meminta kabarnya. Aku mengerti betul
ia. Rasa cinta kepada Sang Maha Cinta lebih besar daripada cinta monyet
denganku yang hanya akan membuang-buang waktunya. Ah, aku bangga kepada Mas ku.
Sekaligus sedih. Melepasnya
Tanpa salam perpisahan aku berdiri
menuju pintu keluar. Kudapati ia masih menunduk. Aku menerobos hujan yang
sedari tadi tinggal gerimis. Dari luar Resto masih kudapati wajahnya. Kini
menatap jendela basah. Tentu dengan tatapan yang optimis. Bintang jatuh telah
mengarahkan Mas ku pada sebuah jalan kebenaran. Sesekali kubanggakan hatiku
untuk lelaki yang pernah singgah itu.
“Semoga
istiqomahnya menjadi trotoar menemukan cinta yang sebenarnya” Lirihku.
Aku
kini benar-benar merasakan dewasa. Dewasa yang tak dibuat- buat lagi. Dewasa
yang sesungguhnya. Aku bahkan kini telah duduk di sebuah bangku perusahaan
ternama di kotaku. Pekerjaan membuatku betah di kantor. Rumah hanya menjadi
tempat pulang untuk sejenak mengenang masa lalu. Aku melanjutkan pekerjaanku.
Membuat jurnal kontrak dan beberapa buah laporan. Tiba-tiba dalam memori
terdalamku, muncul wajahya. Aku berusaha menepis, menutup kotak yang telah lama
kututup rapat-rapat.
Malam
ini aku ingin sekali tidur di rumah. Merasakan atmosfir kamarku yang tak pernah
berubah dari dulu: Tenang. Dia? Entah dia kini berada di belahan bumi mana. Aku
enggan mengusik hatiku. Kubiarkan Jiwaku menguburnya hidup-hidup.
Seperti
malam-malam sebelumnya, hatiku masih menengadah. Sulit kutepis. Mengais-ngais
sisa tanya di balik rinai hujan. Engkau mulai memanyungiku di bawah rintik
hujan yang menjelma gerimis. Dan membisikkanku tentang bintang jatuh. Ada
sebuah cahaya disana. Membawamu pergi dan menjelma titik di kejauhan. Hilang.
Malam
itu, kau benar-benar menjelma bintang jatuh. Melesat, berpijar, dan aku
memejamkan mata.
Makassar,
2 Maret 2016/04:59 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar